Minggu, 11 September 2011

BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Ketika Rasul Saw pernah bercerita tentang tiga orang yang terjebak disebuah gua, kemudian mereka bertawassul terhadap amal mereka supaya pintu gua itu terbuka, maka salah seorang dari mereka bertawassul terhadap baktinya kepada kedua orang tuanya, dengan tiba-tiba pintu goa itu perlahan terbuka.
Ketika Rasul Saw juga pernah berwasiat kepada sahabat karibnya Umar bin Khattab supaya meminta doa kepada seorang pemuda Uweis bin 'Amir Alqorniy dari Yaman, Umar ra heran apa istimewanya Uweis ini, ternyata rahasianya adalah karna Uweis adalah orang yang sangat hebat baktinya kepada ibunya, ayahnya sudah meninggal, pernah menggendong ibunya dari madina ke mekkah ( 465 km) untuk haji dan ingin jumpa dengan Rasul Saw, tapi sayangnya beliau tidak sempat jumpa dengan Rasul Saw, Rasul sudah keburu wafat.
Juga ketika salah seorang sahabat ngotot ingin ikut berjihad bersama tentara muslim, Rosululloh Saw malah menyarankan supaya ia berbakti saja kepada ibunya dan tidak usah dulu ikut perang. Kisah-kisah nyata yang saya sebutkan tadi hanyalah sekilas pendek dari cerita tentang pentingnya bakti kepada orang tua.
Dalam Alquran Allah Swt berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (الإسراء 23)
Artinya: dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tuamu, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang diantara keduanya atau dua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu mengatakan 'ah' kepada keduanya, dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia. (Al-isra' 23)
Kedua orang tua adalah bapak dan ibu, keduanya mempunyai peranan yang sangat besar sejak lahirnya kita kedunia ini sampai kita anak-anak, remaja sampai dewasa bahkan sampai kita jadi ayah lagi. Ayahlah misalnya kita lihat sibuk mencari nafkah pergi pagi pulang sore, banting tulang peras keringat dengan harapan biar anaknya kelak hidup lebih baik dari dia sekarang ini, namun banyak anak yang ketika hidup layak justru lupa jasa orangtuanya. Disamping itu bapak juga memberikan perlindungan dalam kehidupan ini, menjadi symbol wibawa yang suatu saat nanti kita akan merasa apabila dia sudah tiada. Orang sering beralasan tidak menzolimi kita karena segan kepada orang tua kita. Ayah adalah deking pelindung ataupun symbol wibawa kita ditengah masyarakat. Beruntunglah orang yang masih hidup orangtuanya.
Sterusnya ibu, ibu adalah orang yang paling sering terlibat dengan kita, lebih banyak menangani kita, pantas suatu saat shabat bertanya kepada Rasul Saw tentang siapa yang mesti dia taati? Rasul Saw menjawab ibu, ibu, ibu, baru bapak. Karena kesusahan ibu bukan main hebatnya, seorang ibu sudah mulai tersiksa semenjak beliau mengidam menginginkan hal-hal yang tidak musim, mengandung 9 bulan, sampai perjuangan melahirkan yang antara hidup dan mati, tidak sampai disitu saja waktu anak kecil sampai bisa mandiri juga mesti selalu menyusahkan orang tua, khususnya ibu.
Makanya dosa besar apabila sang anak kemudian durhaka kepada orang tuanya, dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:
وإن أكبر الكبائر عند الله يوم القيامة الإشراك بالله وقتل النفس المؤمنة بغير الحق والفرار فى سبيل الله يوم الزحف وعقوق الوالدين ورمي المحصنة وتعلم السحر وأكل الربا وأكل مال اليتيم (رواه ابن حبان فى صحيحه)
Artinya: sesungguhnya dosa yang paling besar disisi Allah Swt pada hari kiamat adalah syirik, membunuh mu'min tanpa alasan yang benar, lari dari perang ketika melawan kafir, durhaka kepada kedua orang tua, menuduh wanita suci dengan tuduhan perzinaan, mempelajari sihir, memakan harta riba, dan memakan harta anak yatim. (HR Ibnu Hibban dalam kitab Sohihnya).
Bentuk-bentuk kebaktian kepada orangtua antara lain adalah :
Pertama:.
Bergaul dengan keduanya dengan cara yang baik.
Di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai pengertian bahwa memberikan kegembiraan kepada seorang mu’min termasuk shadaqah.
lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita. Dalam nasihat perkawinan dikatakan agar suami senantiasa berbuat baik kepada istri, maka kepada kedua orang tua harus lebih dari kepada istri. Karena dia yang melahirkan, mengasuh, mendidik dan banyak jasa lainnya kepada kita.
Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuh maka fardhu ‘ain) dengan meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kembali dan buatlah keduanya tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis” [Hadits Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i]
Kedua:
Yaitu berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut.
Hendaknya dibedakan berbicara dengan kedua orang tua dan berbicara dengan anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua, tidak boleh mengucapkan ‘ah’ apalagi mencemooh dan mencaci maki atau melaknat keduanya karena ini merupakan dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang tua. Jika hal ini sampai terjadi, wal iya ‘udzubillah.
Suatu saat ada seorang shabat beserta seorang laki-laki tua menghadap kepada Rasulullah Saw, lalu Rasul bertanya, apakah ini ayahmu? Shabat tersebut menjawab, ia. Maka pesan Nabi:
لا تمشى أمامه ولا تقعد قبله ولا تدعوه بإسمه ولا تستسب له
Artinya:
Jangan lalu lalang didepannya, dan jangan duduk sebelum ia duduk dan jangan memanggilnya dengan namanya, dan jangan menyebabkan makian kepadanya.
Ketiga:
Tawadlu (rendah hati).
Tidak boleh sombong apabila sudah meraih sukses atau mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.
Firman Allah Swt surah Al isra' ayat 24 berbunyi:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Seandainya kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang kita anggap ringan dan merendahkan kita yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita dan bukan sesuatu yang haram, wajib bagi kita untuk tetap taat kepada keduanya. Lakukan dengan senang hati karena hal tersebut tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang menyuruh adalah orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik selagi keduanya masih hidup.
Keempat.
Yaitu memberikan infak (shadaqah) kepada kedua orang tua.
Semua harta kita adalah milik orang tua. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surat Al-Baqarah ayat 215.
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ .
inti dari ayat ini adalah: "Jika seseorang sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkannya yang pertama adalah kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Baqarah di atas. Kemudian kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang yang dalam perjalanan.
Kelima.
Mendo’akan orang tua.
Sebagaimana dalam surah Al-isra' ayat 24:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
(katakanlah;Wahai Rabb-ku sayangilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku diwaktu kecil).
Lebih-lebih apabila orangtua kita sudah dahulu dipanggil Allah Swt.
Dalam sebuah hadits berbunyi:
عن أبى أسيد مالك بن ربيعة الساعدي قال:
بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ جاء رجل من بنى سلمة فقال: يا رسول الله هل بقي من بر أبوي شيئ أبرهما به بعد موتهما؟ قال نعم. الصلاة عليهما,والإستغفار لهما, وإنفاذ عهدهما من بعدهما, وصلة الرحم التى لا توصل إلا بهما, وإكرام صديقهما.
"artinya: bersumber dari Abi Asyad Malik bin Robi'ah As-sa'idi ia berkata:
Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah Saw tiba-tiba datang seorang laki-laki dari bani Salamah dan berkata: Wahai Rasulullah! Apakah masih tersisa kesempatan berbakti kepada orangtuaku setelah keduanya meninggal dunia? Maka Rasulullah Saw menjawab: ia, masih. Yaitu: menshalatkan keduanya apabila meninggal, meminta ampunkan keduanya (istigfar untuk keduanya), melaksanakan janji mereka yang belum terpenuhi, silaturrahmi yang semestinya mereka lakukan andai mereka masih hidup dan hormat dan memuliakan teman/sahabat mereka.
Intinya hal yang bisa dilakukan untuk berbakti kepada orang tua kita yang sudah meninggal adalah:
[1] Mendo’akannya
[2] Menshalatkan ketika orang tua meninggal
[3] Selalu memintakan ampun untuk keduanya.
[4] Membayarkan hutang-hutangnya
[5] Melaksanakan wasiat yang sesuai dengan syari’at.
[6] Menyambung tali silaturrahmi kepada orang yang keduanya juga pernah menyambungnya.
Terakhir sekali penulis berpesan dengan potongan Hadits Rasulullah Saw.
بروا أباءكم تبركم أبنائكم (الحديث)
Artinya: "Berbaktilah kepada Orangtuamu, niscaya anak-anakmu nanti akan berbakti kepadamu"
Pasar Sabtu Pinarik , 30 Agustus 2011
Isma'il Nasution, Lc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar